Pria tua tuna netra pun berjuang sendirian di jalanan..
Jumat, 25 Mei 2012
Di pagi hari menjelang weekend, ini twit pertama saya:
Ya, mungkin memang saya sedang dalam kondisi terendah dalam hal-hal yang berkaitan dengan bekerja--meskipun itu merupakan kewajiban (dan kebutuhan) saya.Berangkat pagi hari, seperti biasa, saya transit di terminal Kampung Melayu. Dalam perjalanan saya menuju flyover dimana angkutan umum M44 menunggu, saya melihat di jalur busway ada dua busway yang berhenti--padahal jalan di depannya tidak sedang apa-apa. Ketika saya perhatikan, ternyata di depan bus Trans Jakarta tersebut ada seorang pria tuna netra tua yang kebingungan arah dan berpegangan pada beton pembatas jalan--and nobody was there to help him!
Saya pun langsung berlari menuju arah pak tua tersebut, yang ternyata beliau sedang berteriak minta tolong. Saya langsung meraih tangannya dan menyebrangkan beliau. Beliau langsung bilang pada saya untuk dicarikan Metro Mini nomor 50 ke arah Kebon Singkong (yang saya baru tahu memang adalah kampungnya pengemis. Letaknya di Klender, Jakarta Timur).
Udah nunggu 5 menit, busnya gak datang-datang juga. Adanya Metro Mini 52. Saya tanya lagi si bapak apakah yakin nomor 50 karena daritadi yang lewat hanya nomor 52. Dia bilang "iya", lalu selanjutnya bilang bisa saja dia naik ojek, tapi nanti ongkosnya akan habis sebelum dia bisa kembali pulang. Tanpa banyak pikir, saya langsung menggandeng bapak itu ke tukang ojek untuk mengantarkan bapak itu ke tujuannya. Setelah tawar menawar harga, tukang ojek tersebut mau mengantarkan bapak tua tersebut.
"Bang, saya titip bapak ini ya".
"Iya mbak, saya akan anterin sampai ketemu tempatnya".
Dari situlah, saya langsung berjalan pergi dengan menitikkan air mata. Kepikiran, bagaimana kalau bapak tadi itu adalah ayah saya.. Dan tidak ada yang menolongnya di jalan.. Tentunya saya akan merasa sangat gagal menjadi seorang anak.
Lagi-lagi saya bersyukur karena mendapat pelajaran yang berharga. Berharga, Tuhan memberikan pelajaran tersebut dengan cara yang 'menyentil'. Malas-malasan yang saya rasakan tadi pagi ketika bangun tidur, sirna sudah. Bersyukur saya masih punya tubuh yang sehat yang bisa melakukan apapun yang saya mau, tidak ada keterbatasan signifikan apapun. May God always bless that old man! :')
Lagi-lagi soal pernikahan
06 Mei 2012
Pfffft. Mohon dimaafkan kalau lagi-lagi saya bicara tentang pernikahan. Jadi begini, baru-baru ini saya membaca 'diary' di timeline teman saya tentang pernikahannya. Saya tau, apa yang dia bicarakan adalah kisah subjektifnya tentang kehidupan pernikahannya. Tapi alangkah baiknya kalau itu tidak terkesan menguliahi. Harus diingat, di sini saya tidak memberikan penilaian yang menyudutkan kepada siapapun. Here are my opinions. Saya akan jabarkan per poin supaya lebih enak. 1. Katanya, pacaran lama itu perlu untuk bisa mengenal pasangan sebanyak 80%, sekaligus juga mengenal keluarganya. »» Saya pribadi bisa setuju bisa juga tidak. Basically karena saya sendiri pacaran sudah menginjak tahun ketiga---yang memang sebentar lagi, kata orang-orang, akan menikah. Jadi, ya, untuk ini saya setuju. Setuju karena posisi saya yang melalui masa pacaran lumayan lama. Ketidaksetujuan saya adalah tidak semua orang harus mengaplikasikan ini. Ada yang baru kenal, chemistry kuat, dilanjutkan dengan kompak berkomitmen untuk serius ke tahap berikutnya. Banyak juga teman saya yang gak sampai usia 1 tahun pacaran melenggang dengan indahnya ke pelaminan. Pasca pernikahan? Baik-baik saja. 2. Kenapa butuh 80% untuk mengetahui kepriabadian calon suami/istri? Karena 20%-nya akan terlihat setelah menikah. »» IMHO, saya sendiri sih pede-pede aja menganggap saya sudah sangat mengenal pasangan saya----sebatas yang sama mau. Jadi begini, saya ini termasuk orang yang menganggap bahwa butuh mengenal pasangan saya secara keseluruhan dan mendalam. Basically karena memang saya seperti itu. Kalau memang mau ada yang ditutupi, silahkan saja asal tidak mengganggu stabilitas hubungan. Saya juga tidak berharap menemukan sesuatu yang baru dari pasangan setelah menikah. Di mata saya, pernikahan itu bukan ajang eksplorasi. Sudah cukup lah eksplorasi dilakukan saat masih pacaran. Pernikahan itu adalah stage saling mengerti, saling mengisi satu sama lain. Sederhananya ibarat praktik estafet lah. 3. Teman saya juga bilang, kalau dia gak suka dengan komentar orang yang bilang: "ah liat aja, 5 thn #nikah juga pasti udh berubah, ga mesra lg." Menurutnya, ini adalah bentuk dari negative thinking. »» Kalau menurut saya, mesra tidak mesra cuma masalah pergeseran sikap masing-masing. Ada beberapa kondisi yang menurut saya pasti akan mengubah kadar kemesraan seseorang. Jangan menuntut atau berharap pasangan akan terus-terusan menjadi Romeo. Ala Shrek-pun juga punya sisi romantis. Bohong deh kalau dalam pernikahan tidak ada pasang surut. Intinya, penyesuaian. Yah, emang pada dasarnya saya dan pasangan bukan termasuk pasangan yang hobi mesra-mesraan ya, jadi saya sama sekali tidak berharap setelah menikah dia akan jadi mesra, atau tidak sama sekali. Yang penting untuk saya adalah pengertian dan kepedulian. 4. Poin ini sih tidak ada hubungannya dengan apa yang teman saya bilang. Saya cuma mengutarakan betapa tidak sukanya saya kepada pasangan suami istri, yang tidak bosan-bosannya mengajak temannya untuk menyusul ke pelaminan. Misalnya begini, ada teman yang mengucapkan "selamat menempuh hidup baru/so happy for your happy marriage" atau apalah ucapan turut bahagia atas penikahannya. Cukuplah balas dengan "terima kasih" saja. Jangan dilanjutkan dengan "cepet nyusul ya/you'll find the one/kapan nikah" atau ajakan sejenis apapun. Belajarlah menghargai orang lain, karena belum tentu orang lain tersebut setuju dengan Anda. Dan alangkah baiknya mulai sekarang berusaha untuk belajar injak rem. Mana tau apa yang Anda katakan malah bepotensi menyinggung. I think that's all. Kalau dipikir-pikir, siapa saya ya berpendapat sok tau begini, lha wong ngerasain nikah aja belum. Tapi memang yang ada di kepala ini harus segera saya keluarkan. Peace!Jangan publikasikan kemarahan di socmed.
30 April 2012
Beberapa bulan belakangan (atau bahkan tahun), saya belajar bahwa alangkah baiknya masalah apapun seputar urusan kantor tidak sampai dipublikasikan lewat social media (socmed). Pikiran, "ah, orang-orang gak akan ngeh ini tentang apa.." SALAH BESAR.
Seperti misalnya beberapa minggu yang lalu, saya baca tulisan di salah satu komunitas blogger terkemuka yang menceritakan tentang masalah temannya di kantornya, yang pada akhirnya masalahnya justru melebar. Bukan cuma seisi kantor temannya jadi ricuh, tapi kredibilitas masing-masing yang dilibatkan juga terancam---tentunya oleh orang-orang yang membacanya. Ya, bikin gerah.
Itu blog. Lebih banyak lagi yang mencurahkan emosinya lewat Twitter. Dari timeline saya sendiri, banyak kok yang twit keluhan seputar kerjaan setiap harinya. Jangan lagi berpikir: "ah, akun Twitter gue di-protect kok". SALAH BESAR. Orang lain yang follow bisa saja 'iseng' me-retweet, atau lebih tepatnya me-retweet 'dengan paksa'. Kenapa 'dengan paksa'? Yah wong akun Twitter yang di-protect itu kan gak akan bisa di-retweet dalam bentuk apapun. Belum lagi interpretasi atau kesimpulan yang diambil dari follower-nya (yang baca)---yang bisa berujung pada gosip di kantor. Ini sering terjadi.
Dulu, saya memang termasuk orang yang vokal di Twitter. Dalam arti apapun yang saya rasain selalu saya twit, termasuk keluhan seputar perusahaan tempat saya bernaung (dulu). Tapi lama-lama saya insyaf, karena saya capek sendiri juga baca timeline orang yang kerjanya ngeluh mulu masalah kerjaannya. Tapi insyaf bukan berarti saya pensiun lho ya...
Apalagi ketika yang dikeluhkan adalah rekan kerja sendiri dengan, secara sepihak, dan menggunakan bahasa yang kasar. It's inappropriate. Yang akan jadi bahan omongan bukan saja si pelaku, tapi juga si subjek yang diomongin. Mbok ya kalau ada masalah langsung aja bicarakan baik-baik dengan orang yang bersangkutan---tanpa harus menghina-hina di socmed.
Ngeluh sih menurut saya oke oke aja, di Twitter atau bentuk socmed manapun. Tapi kan bisa dilakukan dengan cara elegan. Intinya, sampaikan saja dengan cara tersirat dan dibuat ambigu. Orang tentunya pasti akan menikmati tanpa mengambil kesimpulan apapun.
Kembali ke poin penting, saya sih gak ada masalah sama sekali dengan keluhan, tapi agak ganggu yang kalau sudah keluhan tersebut berisi makian dan pesan tersurat untuk subjek yang dituju. Pemilihan bahasa itu sangat perlu, apalagi untuk saya yang makanan sehari-harinya gak jauh-jauh dari pemakaian bahasa.
Sekarang, sih, saya sangat menghindari twit sarkas dengan kata-kata kotor. Saya ingat pernah baca di mana, bahwa orang yang marah-marah di socmed (khususnya Twitter) itu seperti onani. Situ puas, tapi yang lihat jijik. Walaupun harus diakui, godaan melampiaskan kemarahan via Twitter sih sangat besar... Tapi biasanya, walaupun saya ketik, saya pikir ribuan kali untuk "send tweet". Entah batal kirim atau edit total. And guess what, itupun udah bikin lega...
Sedikit oleh-oleh dari Manhattan Fish Market
Not-so-eco bottle
Hari ini, 18/04/2012, saya datang ke peluncuran Ades eco-crush bottle di EX, Jakarta. Air minum dalam kemasan, yang botolnya masih tetap menggunakan botol plastik, hanya saja kemasannya baru.
Eco-crush bottle ini sudah dikembangkan di negara-negara tempat The Coca-Cola Company beroperasi, yaitu Jepang (2009), Meksiko (2009), Korea (2010), Taiwan (2010), Hong Kong (2010), Vietnam (2010), dan Thailand (2011). Indonesia menjadi negara yang ke-8. Pertanyaannya: apa yang dimaksud dengan eco-crush bottle?
Jadi, Ades ini punya punya semacam gimmick berupa ajakan dengan tiga ritual: Pilih - Minum - Remukkan (Choose - Drink - Crush). Urutannya begini, jadi konsumen diajak untuk memilih minuman kemasan (tentunya, Ades), meminumnya, dan kalau habis bisa segera dihancurkan dengan cara dipelintir. Mereka bilang, meremukkannya itu fun. Kenapa diremukkan? Karena botol plastik yang diremukkan akan memberikan banyak ruang? Ruang apa? Ruang dalam tong sampah, mungkin?
Kalau dari segi pemasaran, gimmick tadi itu oke. Pasti banyak orang yang tertarik membeli air kemasan baru ini. Apa lagi tujuannya kalau tidak ingin mencoba untuk pengalaman meremukkan yang katanya menyenangkan. Tidak salah, kok. Hanya saja kurang sreg dengan 'kacamata' saya.
Saya, sebagai konsumen, yang juga berusaha untuk menjadi orang yang ramah lingkungan, berpendapat bahwa konsep ini tidak sejalan dengan saya. Kalau memang saya ingin menerapakan prinsip dasar Reduce, Reuse, Recycle dalam membeli air kemasan--tentunya saya lebih memilih untuk meminimalisir pembelian.
Si botol eco-crush ini katanya sudah mengurangi penggunaan plastik pada botol kemasan hingga 8%. That's great, actually. Tapi ketika ini menjadi sesuatu untuk dijual, tentunya yang diharapkan adalah angka penjualan yang besar. Kalau memang meremukkan botol adalah 'kampanye' untuk air kemasan ini, hampir bisa dipastikan bahwa pembelinya akan meremukkan dan membuang botol kemasan tersebut setelah habis diminum.
Ya, ini tidak ada salahnya juga. Tapi saya mempertanyakan lagi di mana letak ramah lingkungan yang sebenarnya? Jawaban yang saya dapat, bahwa dengan konsep ini, Ades ingin menginspirasi orang-orang untuk melakukan suatu perubahan. Entah apapun itu yang berhubungan untuk menjadi lebih ramah terhadap lingkungan. Semuanya dikembalikan lagi ke masyarakat. Yang mau mengolah sampah remukkan botol plastiknya, silahkan. Yang hanya ingin minum - remuk - buang, juga silahkan. Bagi saya, ini jadi lebih seperti "cara baru untuk membuang sampah plastik".
Tapi bagaimanapun, pengurangan 8% penggunaan plastik PET dalam kemasan adalah langkah yang bagus. Semoga ini bisa menginspirasi produk-produk lain untuk melakukan hal yang sama, atau yang lebih besar lagi. Yang effort-nya untuk ramah lingkungan bisa lebih terasa.
Oh ya, tepuk tangan juga untuk seragam pegawai Coca Cola Indonesia (dan apapun lainnya) yang sudah semaksimal mungkin ramah lingkungan.
'Lame'-aran. :D
Hari ini, Sabtu, 14 April 2012, saya resmi dilamar oleh pacar saya. Jadi, sekarang, status kita jadi 'engaged' atau 'bertunangan' nih? Unfortunately, yes. :D
Enggak kok, ini bukannya saya tidak suka dengan status saya. Saya cuma mau cerita apa saya yang terjadi ketika 'menjelang', 'saat', dan 'setelah' prosesi berlangsung.
Hari Jumat, saya liputan Sayfestville yang mengharuskan saya untuk pulang larut. Acara dilakukan di outdoor, di Stadion Renang Senayan. Awalnya, sih, super gerah. Tapi semakin malam, angin jahat mulai datang. Mungkin karena faktor saya capek, agak stres, dan datang ke acara yang tidak suka, jadi berdampak pada kondisi fisik saya. Di perjalanan pulang, perut sudah mulai bergejolak, dan badan pun meriang. Seingat saya, saya baru sampai rumah sekitar jam 23.30 WIB.
Sampai rumah, ibu saya masih menyiapkan masakan untuk acara keesokan harinya. Lihat saya sudah gontai dan pucat, beliau menyuruh saya untuk tidur saja.
Keesokannya, saya bangun jam 07.00 WIB. Buka mata, saya langsung disambut badan panas dingin dan mual. Tidak hanya itu, saya pun (sorry) mencret-mencret. Akhirnya saya minum teh sejenak, pantengin timeline Twitter, lalu mandi. Rencananya, acara akan dilangsungkan maksimal pukul 11.00 WIB, supaya waktu dzuhur sudah bisa selesai dan dilanjutkan dengan makan siang.
Ketegangan mulai terjadi.
Gak lama setelah saya bangun, saya telepon pacar saya, memastikan dia sudah bangun. Tidak diangkat. Ya sudah, saya pikir mungkin dia mandi atau apa. Baiklah, everything went well sampai akhirnya dia BBM saya jam 09.19 WIB (jam dimana dia dan keluarga harusnya sudah berangkat karena perjalanan panjang antara Pamulang - Pondok Gede), "Aaaaarrrrrggggghhhhh. Kenapa pada seneng berlama-lama ya?"
09.47 WIB, masih juga belum berangkat.
Di sini saya sudah mulai stres. Bawaan pengen ngomel, tapi bisa saya tahan. Akhirnya saya memilih untuk menjawab BBM dia dengan "saya no komen ya". Saya tau pacar saya juga pasti kesal karena dia tau banyak saudara-saudara saya yang menunggu dia di rumah saya. Jadi, ya sudah, saya memilih untuk gak mengomentari BBM pacar saya.
Sampai akhrinya rombongan sampai di rumah saya pada pukul 11.30an WIB. Di situ saya mulai kebingungan tentang apa yang akan saya lakukan. Salah satu tante saya, bilang kalau saya harus ngumpet, dan nanti akan ada tukar cincin segala. Dalam hati, "yesss!" Bukan tukeran cincinnya ya, tapi ngumpetnya. Maklum, saya kan gak suka dipajang.
Lucu, sepanjang acara berlangsung, saya dan pacar saya BBM-an. Mulai dari pertanyaan siapa saja saudara-saudara saya, bahkan obrolan yang tengah terjadi, atau saling melucu. Maklum, kita berdua sebenarnya sama-sama malas dengan acara-acara formil. Setelah doa bersama, lalu tibalah waktu untuk pakai cincin. Orangtua dia memakaikan saya, dan juga sebaliknya. Di situ kita sama-sama kagok, tentang jari mana yang dipakai. Saya dipakaikan di jari manis sebelah kiri, sedangkan dia dipakai di jari manis sebelah kanan. See, gak kompak! xD
Tapi yah, Alhamdulillah acara berjalan lancar. Semoga di sisa hari menjelang, semuanya akan baik-baik saja.. And yes, simply because we want this :)
Pasangan bukan pajangan.
Saya jadi merasa tergelitik, memang kawinan itu ajang wajib untuk pamer pasangan/calon pasangan ya? (untuk yang punya). Selama hampir 3 tahun saya pacaran, mungkin datang ke acara kawinan bareng bisa dihitung pakai jari, dan gak sampai 5 kali. Seinget saya, cuma 3x, dan salah satunya ada yang saya datangnya misah. Saya datang sama teman-teman saya, karena satu dan lain hal dia nyusul. But hey, what's the big deal? Saya pun juga sering sekali datang ke acara kawinan teman sendirian, solo. Alasannya?
Pertama, saya tau kalau pacar saya juga tidak terlalu suka 'hangout' dan 'eksis' di acara kawinan orang seperti saya--kecuali yang memang kenal dekat. Kedua, biasanya kalau memang saya malas, saya ajak dia. Tapi kalau dia gak bisa, ya sudah. Go solo, or not going at all.
Terkadang alasan saya pergi sebuah acara kawinan adalah ingin bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, yang biasanya memang janjian. Tapi balik lagi, ini gak ada hubungannya dengan bawa pasangan atau tidak. Malah, mendingan gak usah bawa pasangan karena nantinya kan saya akan lebih banyak ngobrol atau bahkan mau lanjut ngobrol ke coffee shop atau mall. Bagus kalau pasangan bisa menerima dan ikut nge-blend, tapi kalau gak bisa? Mendingan gak usah diajak kan.
Jadi, harusnya gak ada tuh alasan gak bawa pasangan ke acara kawinan karena alasan malu, apalagi physically. Patut dipertanyakan juga, atas dasar apa situ mau aja jadi pasangannya.
Pasangan itu bukan pajangan, yang kemana-mana harus ngikut, ngekor, anter-jemput, cih. Well, KECUALI, pasangan saya adalah Michael Fassbender, RDJ, atau Corey Taylor.









